Dulu aku paling ngefans buanged yang namanya aliran musik cadas (musik
Keras) besi kalee keras hehe... Dentuman musik yang hingar bingar yang bisa membuat adrenalinku
membara. Pokok'e aliran musik inilah yang paling aku suka : Rock, Metal,
Underdround (Blackmetal, harcore, grindcore, heavy metal, grunge, punk
dll..) Dulu jamannya kaset, sampe numpuk koleksi kaset-kasetku : Guns
n Roses, Sepultura, Megadeth, Metallica, Limp Bizkit, Korn, Burgerkill,
Tengkorak, Crocodille, Boomerang, Power Metal, Pas Band de el el... Sampai sekarangpun musik cadas selalu menemani hari-hariku..
Aku (Deddy Doank) bersama Personol Pas Band
Tapi yang membuat aku bingung aku sampai-sampai melupakan kebudayaanku sendiri. Tentunya asli kebudayaane wong Dermayu (Indramayu) yaiku tarling.
Baru di tahun 2011 lah aku mulai menyukai musik tarling (kalau mengenal
tarling ya dari kecil) tapi tidak begitu ngehhh dengan musik tarling.
(Somse buanged aku re', kader mangan lawue karo oncom petek gah jebrettt hehe...) Dulu aku cuma mengenal satu atau dua lagu tarling saja. Selebihnya aku masih belum bisa menyukainya musik tarling sepenuhnya. Setelah ketemu langsung dengan mbak yu Susy Arzetty tahun 2013, baru mulai ngefans sama mbak SA. Itupun aku baru menyukai beberapa glintir lagu-lagunya dari si The Princes Off Pantura tersebut.
Asal muasal itulah baru aku menyadari betapa pentingnya arti
melestarikan kebudayaanku sendiri (Budayae reang, kebudayaane wong
Dermayu). Wis ora gengsi-gengsian maning ning tarlinge skien mah cahhh...!!!!!
Aku (Deddy Doank) bersama The Princess Of Pantura Susy Arzetty
Sungguh aku beruntung gara-gara menyaksikan langsung pertunjukan show si Diva Tarling Dermayu 2013 di acara adikku itu. Sampe-sampe aku kesemsem sama mbak Susy Arzetty (Naksir abis aku ckckckk....) Seumur-umur aku belum pernah yang namanya nyawer. Tapi di acara adikku, aku pokok'e nyawer terus (Rockers ko nyawer ahaaaaa...). Pokok'e detik-detik itulah aku mulai menyukai kebudayaan tarlingku.
Keluargaku Bersama Susy Arzetty & Suka wijaya
YouTube The Princes Off Pantura Susy Arzetty (Koleksi foto-fotoku)
Sebelum ngebahas TARLING, baiklah gan...!!!!!
Kita akan bahas ROCK setajam SILET dulu hehe...
Bagaimana masuknya budaya asing dan Perjalanan Musik Rock Indonesia (Sejarahku Mencintai Musik Cadas).
Semakin berkembangnya tekhnologi di zaman modern ini mebuat semakin
mudahnya media masuk.
Dan dampak negatif dari tekhnologi adalah
mudah masuknya budaya asing yang kurang baik tanpa di saring dan tanpa
diseleksi oleh bangsa kita.
Dan hal itu lah yang membuat bangsa kita
perlahan – lahan melupakan budaya warisan leluhur.
Sehingga budaya kita banyak yang tidak ada regenerasi nya bahkan budaya kita sampai di klaim oleh negara lain.
"Pada saat ini sudah banyak sekali para anak muda yang tidak mengetahui
bahkan mengenal budaya leluhurnya sendiri yang sebenarnya itu adalah
warisan dari para leluhur dan jati diri bangsa Indonesia"
Para pemuda dewasa ini lebih senang bermain game di
handphone atau di internet ketimbang bermain permainan tradisional khas
indonesia .
Gaya berpakaian dan gaya hidup mereka juga cenderung
mengadopsi dari barat yang jelas-jelas berbeda dengan budaya asli
Indonesia.
Dan pemuda sekarang cenderung lebih menyukai lagu-lagu korea
dari pada lagu-lagu kebangsaan atau lagu daerah khas mereka.
Kurun 1990'an adalah masa-masa emas perkembangan musk rock di Indonesia. Selain grup rock yang menjamur, belasan lady rocker menunjukkan eksistensinya Anggun CS, Nicky Astia, Mel Shandy dll... Ke mana para lady rocker itu kini..??? Aku suka musik rock, bagiku musik rock penuh dengan semangat, energik, dan penuh motivasi. Bagaimana menurutmu gan..??? Apakah diantara kalian banyak yang menggemari musik rock..???
Ada pepatah baru mengatakan, “ROCKERS JUGA MANUSIA”. Itu artinya bagi kalian yang bukan penggemar musik rock janganlah menilai kami dari apa yang kami gemari. Tampang boleh ngerock tapi hati tetap seputih salju. Nah, berbicara tentang musik rock, sebenarnya di Indonesia itu pernah mengalami kejayaan musik rock, sekitar era-90an. Banyak sekali band-band rock yang bermunculan dan eksis di industri musik. Di Indonesia banyak band rock yang aku suka, diantaranya : Edane, Rotor, Jet Liar, Kaisar, Rudal, Boomerang, Pas Band, Koil, Rif, Jamrud, Slank dll.. Tapi band terpfavoritku cuma satu yaitu Power Metal. Namun sayangnya, kenapa semakin berjalannya waktu, banyak juga band-band rock yang mulai menghilang begitu saja.
Kangen rasanya pengen nonton konser musik rock secara live lagi. Andai masih ada kesempatan, aku pasti akan nonton dan berdiri di depan amplifier, memandang ke arah ribuan penonton yang memadati. Walau usiaku menginjak 34 tahun tapi ngefans ke musik rock masih tetap membara. pengen merasakan lagi bagaimana speaker amplifier berdengung- kencang di telinga yang bikin adrenaline dan emosiku naik. Saat itu aku sadar bahwa musik rock mengajarkan aku arti dari kata musik.
Bersama personil PAS BAND :
Salahkah bila aku menyukai musik rock...??? Jangan salahkan aku andai semangatku ada di musik rock...?? Yang patut aku salahkan adalah Pemerintah...??? Toh era tahun 1995'an di stasiun TV ramai-ramai memutar video klip, bukan hanya video klip dalam negeri saja. Melainkan pada saat itu Indonesia benar-benar di jajah oleh musik asing/barat. Yang benar-benar memprihatinkan adalah musisi musik/band-band Malaysia benar-benar merajai jajahannya di Indonesia. Bersama SHANDY drumers PAS BAND exs drumers U'CAMP :
Indonesia seakan menjadi lumbung mencari rezeki bagi band-band Malaysia. Tapi jujur polos dan apa adanya, aku gak suka selera musik Malaysia. Di stasiun TV pun bukan hanya gencar memutar video klip Malaysia tapi video klip baratpun ramai-ramai mendominasi stasiun TV kala itu. Jelas aku menyukai musik barat, Bon Jovi, Sepulltura, Metallica, Megadeth, Off Spring, Guns n Roses, The Cranberries, Limp Bizkit, Nirvana, Korn, Slipknot dll Itulah membuatku menyukai musik rock karena pada saat itu gak ada larangan dari pemerintah atas beredarnya video klip barat di TV. Apa karena gak ada larangan dari pihak pemerintah apa karena pergaulan ya..??? Sampai-sampai aku bener-bener menggilai musik cadas..??? Dari pergaulanpun sangat amat mungkin mempengaruhi... Karena waktu sekolah hinga kuliyah di Jakartapun, selera teman-temanpun mayoritas suka musik keras jadi tetap aku terbawa arus (Rock Never Dies). Bersama YUKIE vocalist PAS BAND :
Pernah suatu ketika aku ditanya oleh seorang teman “Nonton Wayang yukkk...???" Ngapain nonton wayang, kaya orang tua aja...!!! Pertanyaan itu terlontar dengan mulus ketika aku di ajak teman-temanku untuk nonton sebuah Unjungan atau Mapag Sri di desaku. Ya…. Ironis sekali ,memang generasi muda sekarang lebih enjoy dan lebih asyik mencintai budaya asing daripada meluangkan sedikit waktu untuk mengenal dan mencintai budayanya sendiri (Termasuk aku). Bersama YUKIE vocalist PAS BAND :
Tak bisa kita pungkiri seiring dengan perubahan zaman dan terjadinya akulturasi budaya luar, serta peranan teknologi yang semakin maju membuat kita lupa akan tradisi dan jati diri “natural” di mana kita dikandung, dilahirkan dan dibesarkan. Terutama para generasi muda, sebagai tonggak penerus bangsa, dewasa ini sedikit demi sedikit mulai terkikis dan hampir kehilangan jati dirinya. Mereka semua telah terbius oleh budaya-budaya barat yang dinilai sangat menyimpang dan bertolak belakang dengan budaya ketimuran kita. Dimulai dari gaya pakaian yang “sok kebarat-baratan” yang kurang etis, kemudian lifestyle, budaya hedonis, dan tak ketinggalan pula adalah pergaulan bebas yang telah melanda generasi muda kita.
Bersama SUSY ARZETTY :
Baiklah gan...!!!!! Ini asal usul dimana aku sendiri mulai menyukai TARLING (Kalau usul gak boleh asal, kalau asal gak boleh usul xixixiiiiii....) Tahun 2011 aku berniat syukuran ngerasuli dua putriku, ujung-ujungnya sang istri pengen hiburannya syukuran Organ Tunggal... Secara spontan usulan istriku langsung aku tolak. Ujung-ujungnya meletus Perang dunia ke III dorrr hehe...... Entah secara kebetulan atau apa..??? Tiba-tiba sang istri nyetel DVD tarling dapat mijem dari tetangga.. Sambil aku tetep Online di depan laptop.. DVD/musik tarling yang di puter kedengaran di telingaku (dalam hati enak juga ini lagu).
Keluargaku bersama SUKA WIJAYA & SUSY ARZETTY :
Besoknya aku bilang ke istri... Kalau mau hiburannya organ silahkan tapi yang kemaren di puter..??? Akupun gak tau siapa penyanyinya dan apa judulnya.. Yang jelas itu lirik lagu sangat cocok dengan tipe lelakiku (Seharusnya bangga tuh sang pencipta dan sang penyanyinya sampai-sampai aku menyukai/kedanan dengan lagu itu icik iwirrr...). Setelah tau judul dan penyanyinya to the point aja,,, Langsung aku buka YouTube dan aku share ke FB. Ini dia update'an pertamaku di FB selain ROCK. Teman-teman yang komentarpun pada kenanehan dengan share'anku.. "Masa rockers update dangdut/tarling mah" Aku bangga dan aku salut kepada pencipta dan peyanyi itu..??? Secara tak sadar, itu lagu benar-benar menyadarkanku atas terlupakannya kebudayaanku sendiri (Budaya Dermayu). Kebudayaanku yang seharusnya aku lestarikan tapi malah kebudayaan asing yang aku sukai. Disinilah asal muasal aku mulai sadar atas kebudayaanku.
Bersama SUKA WIJAYA :
Akhirnya hajatan ke dua putriku tetap syukuran dengan hiburan Organ Tunggal alakadarnya. Puncaknya adikku punya rencana mau hajatan ngerasuli putrinya di 22 Agustus 2013. Ko tega ya aku sampai ngancam adikku (Wachhh kena pasal neh...!!!) Kalau hiburannya bukan SA, aku gak bakalan ngadiri/datang...!!! Ehhh, adikku sampai kelimpungan atas permintaanku... Setelah adikku koordinasi dengan ortuku... Alhamdulillah akhirnya adikku memuluskan permintaanku... Makasih sist....!!!!!
YouTube TUNJUKAN PESONAMU - SUSY ARZETTY :
Trimakasih buat kang Suka Wijaya dan mbak Susy Arzetty... Yang telah melestarikan kebudayaane reang lan Tradisie wong Dermayu... Judul lagu TUNJUKAN PESONAMU bagiku sungguh fenomenal sekali... Itu lagu berhasil memikat hatiku... dan sekaligus menyadarkanku untuk mencintai kebudayaanku sendiri yang terlupakan... Dulu aku ROCKERS sekarang aku TARLINGERS ckckckck...!!! Teruslah berinspirasi kang Suka Wijaya demi hidupnya kelestarian Budaya Dermayu tercinta... Aku suka lagu-lagumu kang Suka,,, Sampai-sampai aku sangat menyukai sekali mbak Susy Arzetty,,, Echhh, maksudnya menyukai lagu-lagunya mbak Susy Arzetty hehe... (Piss kang Suka Wijaya).
Di akhir blogku ini penulis ingin memberi pesan kepada
seluruh pemuda bangsa indonesia dan khususnya untuk diri penulis sendiri
bahwa pentingya melestarikan budaya bangsa Indonesia.
Para pemuda
harus mulai mempelajari sejarah dan asal muasal budaya warisan
leluhurnya sehingga budaya Indonesia tetap terjaga dan dapat dilihat
oleh anak cucu kita nanti, dan agar ada regenerasi pelestarian budaya.
Dan mari kita mulai dari sekarang mulai mencintai budaya
bangsa Indonesia mulai dari tingkah laku.
Cara berpakaian dan mencintai
lagu-lagu daerah.
Agar bangsa kita tetap mempunyai identitas sebagai
bangsa yang memiliki beragam-ragam suku dan budaya.
Jadi kesimpulannya adalah kita harus
melestarikan budaya Indonesia khususnya budaya Tarling, kepada
adik-adik kita tercinta khususe cah Dermayu.
Agar mereka semua mau secara perlahan untuk
mengurangi kebiasaan mereka untuk tidak mencintai budaya atau musik asing secara terus menerus.
Mari kita lestarikan budaya kita sendiri sebelum budaya kita diklaim oleh bangsa lain...
Kalau bukan kita yang melestarikan, lantas siapa lagi..???
Munculnya band-band baru semudah memasak mie instan dan ‘kacangan’
berdampak munculnya generasi ’MISKIN KREATIFITAS’ di Indonesia. Dan yang paling rentan adalah sangat berdampak terhadap kualitas pola pikir generasi muda. Hingga munculnya generasi “ALAY”. Kok bisa..???
Indonesia pernah menorehkan catatan sejarah di kancah music internasional. Indones...ia
yang kaya akan budaya dan seni, pernah memiliki prestasi luar biasa di
belantika music dunia dari era ‘70an sampai ‘90an akhir. Sebut saja salah satu diantaranya KRAKATAU. Band beraliran Jazz ini cukup terkenal di belahan asia timur dan eropa. Lalu ada KLA Project yang kental dengan kualitas nada-nadanya juga pernah merajai music asia.
Kemudian ada GOD BLESS yang cadas dan konsisten di jalur ROCK selama
tiga 3 dekade, tetap hingar bingar, dan sempat menjadi kiblat para
musisi ROCK di asia tenggara. Ada juga GONG 2000 yang juga ‘jelmaan’ GOD
BLESS. Lalu Pernah ada SAS, ELPAMAS, yang panas di dengar pada tahun 70’an, GRASS ROCK, CAESAR, yang tune in di decade 80’an. Belakangan di era 90’an muncul POWER METAL, EDANE, SLANK, JAMRUD, RIF, GIGI, POTRET, NETRAL, PAS, BOOMERANG dll
Selain kelompok musicnya, para musisinya secara invidu juga sangat
mempengaruhi kualitas music negeri ini, sebut saja diantaranya Totok
Tewel, Erwin Gutawa, Fariz RM, Ireng Maulana, Dwiki Darmawan, Nugie,
Anang, Indra Lesmana, Idris Sardi, Harry Rusly, Dewa Bujana, Iwan Fals,
Doddy Katamsi, dll. Masih panjang lagi deretan nama yang terlalu
panjang untuk disebutkan satu per satu sebab substansi yang akan penulis
bahas dalam kesempatan ini adalah masalah betapa degradasinya kualitas
music Indonesia sepuluh tahun terakhir ini hingga mempengaruhi cara
berfikir pendengarnya.
Lima tahun terakhir ini sangat banyak munculnya band-band baru yang instan bak secepat memasak mie instan.
Dan dijual sperti jualan ‘kacang goreng’ di pasar malam. Sebut saja
diantaranya ST12, KANGEN, WALI, HIJAU DAUN, MATTA, GARNET, MAHKOTA,
D’MASIV, VIERRA, HANCUR BAND, ARMADA, SALJU, ANGKASA, KUBURAN, THE
POTTER, SEMBILAN, GOLIATH, VAGETOZ, LYLA, BAGINDA, termasuk UNGU juga,
dll. Maraknya dunia entertaint dengan menampilkan para pemusik
karbitan tersebut, tampak sangat teramat betapa tidak berkualitasnya
para insan yang terlibat di dalamnya, baik musisinya maupun penikmatnya. Munculnya band-band baru secara instans dan ‘kacangan’ ini dapat
berdampak munculnya generasi ’miskin creatifitas’ di Indonesia. Dan yang paling rentan adalah sangat berdampak terhadap kualitas pola pikir generasi muda. Apa korelasinya..???
Industri rekaman seakan menutup kuping atas perkembangan ini, bahkan
cenderung memang mengalihkan orientasinya untuk betul-betul meraup
profit sebanyak-banyaknya. Para Major Label dan Provider Content
memang mengalihkan orientasinya bahkan dengan sengaja menciptakan pasar
karena pengaruh kuat dari kepentingan para pengusaha yang ingin
mengambil kesempatan untuk memasarkan produknya secara advertising
dengan mendompleng acara-acara karbitan yang diisi oleh para musisi
‘kacangan’ tersebut. Para Broadcaster, EO, atau Radio serta TV pun ikut-ikutan menyemarakan live music yang ‘kacangan’ ini. Sebut saja salah satu diantaranya acara DAHSYAT yang setiap hari ditayangkan secara live pada pagi hari.
Pagi-pagi sudah menayangkan atau nyekokin kuping kita dengan nada-nada
melayu yang hanya memiliki paling maksimal 4 chord standart tersebut,
disertai syair-syair mellow murahan. Lalu ada acara INBOX dan
DERING yang live di lapangan-lapangan atau space terbuka pusat-pusat
perbelanjaan dengan stage yang dipenuhi iklan-iklan komersil.
Sekelompok pemusik karbitan ditampilkan main secara lypsinc lalu
dieluelukan ratusan penonton ABG, yang berdasarkan informasi para
penonton tersebutpun adalah penonton bayaran yang sengaja dibuat
komunitasnya untuk selalu ikut menonton acar-acara tersebut setiap
ditayangkan. Lalu serta merta lagu-lagu tak berkualitas itupun
diciptakan dengan mudah untuk mensupport “Ost”-nya sinetron-sinetron
yang menjamur di Televisi yang juga sarat dengan pembodohan dan tidak
educative.
Lalu yang paling miris, lagu-lagu yang dimainkan oleh band-band tersebut nyaris mirip, semuanya memilik themes yang sama. Syair-syair cinta dan romantis murahan dikemas dengan aliran senandung melayu. Hancur...!!!
Dan ironisya adalah penonton ditipu dengan penampilan mereka secara
live padahal lypsinc.
Para pemain musik tersebut memang tidak memiliki
skill dalam bermusik. Terkesan hanya sekelompok anak muda yang
tampan dan di-make up-in, sebut saja sekelompok ‘boy band’ yang dibekali
alat music, diajari 3 atau 4 chord kemudian disuruh rekaman lalu show
di mana-mana. Edan..!!! Mie instan bukan..???
Para pemusik tersebut tidak melalui proses kreatif seperti festival, atau ajang-ajang perlombaan yang kompetitif.
Kalau pun ada ajang seperti Indonesian Idol atau Mama Mia, atau apapun
yang sejenisnya tidak cukup ideal untuk menyaring para seniman
berkualitas. Karena system yuridisnya hanya sebagai ajang jual
pulsa oleh para pebisnis telekomunikasi dan hanya karena perlu muncul
idola yang tampan dan cantik agar laku “dijual” oleh para pebisnis
talent, kali-kali aja ada kesempatan untuk menjadi bintang iklan atau
tawaran main sinetron. Ono-ono wae...
Artinya dengan miskinnya proses kreatifitas mencipta jelas akan mempengaruhi kualitas nada dan lagu yang diciptakan. Musik memang bahasa universal, tapi bukan berarti musik harus seragam aliranya. Musik melayu boleh-boleh saja, Tapi bukan berarti semuanya kemudian harus jadi mem’beo’.
Ini adalah gejala buruk kualitas music dan musisi Indonesia saat ini,
sebab penurunan kualitas musik Indonesia sama dengan penurunan kualitas
para musisinya.
Tuntutan pasar atau idealisme...???
Lebih dalam lagi bicara dari aspek idealisme, semakin jelaslah generasi
musisi muda negeri ini tidak memiliki karakter bermusik dalam menggarap
lagu. Lalu bagaimana korelasinya antara proses kreatif penciptaan dengan pola pikir..??? Ya akan terkait secara tidak langsung. Dimana karya-karya yang hanya dikerangkakan untuk kebutuhan pasar semata jelas akan menyempitkan cara berfikir generasi muda. Karena yang didengar yang begitu-begitu aja.
Karena alasan pasar sehingga perlu ditayangkan dengan frekuentif.
Karena bagaimana caranya harus laku sehingga perlu memanipulasi
tayangan dengan pengakomodiran massa penonton bayaran yang secara
psiokologis akan mempengaruhi para penonton lain tanpa proses seleksi
kuping secara alami. Karena syair yg harus ringan dan mudah
didengar kuping kalangan ABG, sehingga kata-kata yang terkandung dalam
syair lagu hanya sekitar kata-kata cinta anak remaja dan terkesan
asal-asalan, ya alay (pengistilahan untuk kasus atau jenis musik ini,
atau jenis penikmat musik murahan ini).
Tidak ada lagi
terdengar syair sepuitis KLA dan PADI, atau nada-nada dan chord-chord
miring seperti garapan Fariz RM atau Melly Guslaw, reggaenya Tony Q
Rastafara dan Syair-syair kritis karya Iwan Fals pun tenggelam.
Lantunan nakal atau sentilan ala sundaness Doel Sumbangpun memang tak
kan mungkin lagi kita dengar langsung dari penyanyinya, juga The
Bluesnya si betawi Benyamin ‘babeh’ Sueb pun sudah hampir terkubur
bersama penciptanya. Atau karya-karya Harry Roesly-pun pastinya
hanya kita dengar dari chord okulele para pengamen jalanan yang masih
idealis di jalurnya. Syair pop puitis ciri khas Chrisye, pastinya hanya kita dengar pada acara-acara “tribute” saja.
Atau syair-syair Ebiet G. Ade yang membuat merinding bulu kuduk, yang
kerap menyikapi tentang bencana alam dan fenomena kemanusiaan, hanya
tinggal “album kenangan”. Dekadensi Idealisme musik Indonesia sedang berlangsung saat ini. Kemorosotan kualitas musik seiring merosotnya kualitas para musisi.
Kesimpulanya adalah bahwa generasi musisi baru Indonesia dengan hasil
karya ciptanya yang ‘kacangan’ itu telah ikut serta membodohi pola pikir
masyarakat penikmatnya. Sehingga terciptalah kuping konsumtif dengan asupan nada-nada murahan dan cengeng.
Sehingga muncullah generasi yang tidak punya sense terhadap lingkungan
sendiri, terjebak dengan romantisme picisan. Itulah generasi Alay…..
Mana ada lagi syair seperti torehan SAS yang menceritakan tentang
bencana alam Laratuka, lalu kemudian dikumandangkan kembali oleh
BOOMERANG dengan arrangement baru. Lagu lawas tersebut cukup
berumur karena berkualitas hingga masih layak untuk didengar kembali.
Masihkah akan kita dengar Syair sederhana KPJ yang mengisahkan sulitnya
hidup karena mahalnya harga susu dan rendahnya upah buruh yang
tertindas..??? dan kapan lagi kita dengar harapan-harapan religious yang syiarkan oleh BIMBO bersaudara..???
Diharapkan kepada masyarakat penikmat musik dapat menyeleksi karya musisi mana yang layak untuk didengar. Bukan mana yang enak dilihat mata. Karya yang layak didengar adalah sebuah karya yang idealis.
Dan kepada para musisi lawas, diharapkan untuk tetap konsisten dan
idealis pada warnanya dan tetap mempertahankan kualitas bermusik tanpa
harus menjadi bunglon ikut-ikutan pasar, apalagi harus “melacurkan” diri
menjadi pemain sinetron.